KETERAMPILAN BELAJAR MAHASISWA

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Sampai saat ini masih banyak dijumpai pembelajaran di perguruan tinggi lebih menekankan pada transformasi pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa dari pada mentransformasikan keterampilan yang dibutuhkan mahasiswa dalam belajar. Dalam proses belajar seperti itu, mahasiswa menjadi kurang kreatif, miskin ide, dan belajar menjadi “kering” tidak bermakna, karena mahasiswa “dipaksa” lebih banyak menguasai bahan atau informasi yang diberikan dosen. Akibanya, mahasiswa sering tidak mampu mengkonstruksi pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, tidak dapat mengembangkan diri dan biasanya kurang mampu membandingkan dan menerapkan hasil dari belajar secara teoritis dengan realitas kehidupan. Fenomena proses belajar tersebut karena didasari oleh pemaknaanya terhadap pendidikan, ada pihak yang lebih menekankan pendidikan kepada pencapaian hasil, ada yang lebih menekankan pada proses. Pihak yang lebih menekankan kepada hasil, mereka tidak menyadari bahwa bahwa dalam proses belajarnya justru sering “menjinakkan” atau kurang “memandirikan” mahasiswa, seperti fenomena tersebut di atas. Implikasinya mahasiswa tidak lebih hanya sebagai objek yang pasif, tidak dan kurang memiliki keterampilan belajar, sehingga mereka tidak mampu dan tidak bisa belajar secara mandiri. Pihak yang lebih menekankan proses, mamandang bahwa hasil belajar hanya merupakan konsekuensi logis dari perhatian dan kepeduliannya terhadap proses belajar. Dalam pemaknaan yang kedua ini, praktik pendidikan lebih menekankan kepada upaya meningkatka keterampilan yang dibutuhkan mahasiswa agar mampu belajar dengan kesadarannya sendiri dan memilih peran sebagai individu aktif dalam proses belajar, sehingga mamungkinkan mereka mampu belajar sendiri.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari judul makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Makna Belajar

  2. Makna Keterampilan Belajar

  3. Upaya Meningkatkan Keterampilan Belajar Mahasiswa

  4. Kesimpulan dan Saran

C. Tujuan

Makalah ini dibuat bertujuan untuk:

  1. Agar mahasiswa memiliki keterampilan belajar.

  2. Agar mahasisa menjadi individu yang aktif.

  3. Agar mahasiswa mampu menerapkan hasil belajarnya untuk kemajuan hidupnya.

  4. Untuk memenuhi tugas matakuliah Penulisan Karya Tulis ilmiah yang diampu oleh dosen Drs, Joko Suwandi, SE., M.Pd.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Makna Belajar

Belajar merupakan hal yang vital dalam kehidupan manusia, karena “sebagian besar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar”(Sukmadinata,2005). Belajar juga merupakan hal yang vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga dapat dikatakan tiada pendidikan tanpa belajar. Proses belajar berlangsung sepanjang hidup manusia, terjadi kapan dan dimana saja, sehingga seharusnya tiada hari tanpa belajar,dengan atau tanpa guru sekalipun. Bahkan belajar itu merupakan hal wajib, seperti yang dijelaskan dalam al-hadist “mencari ilmu itu wajib bagi setiap umat islam”(H.R. Ibnu Majah).

Proses belajar terjadi karena ada interaksi antara individu dengan lingkungannya, sebagaimana Surya (1997) mengatakan:belajar merupakan proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan prilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individuitu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Witherington (1952) mendefinisikan: “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”. Crow & Crow (1958) hampir sependapat dengan Witherington, menyatakan: “belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”, dan juga Hilgard (1962): “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”. Di Vesta dan Thompson (1970) menegaskan: “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Namun menurut Surya(1997), tidak setiap perubahan sebagai hasil belajar, tetapi hanya perubahan dengan cirri-ciri sebagai berikut:

  1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).

Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.

  1. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).

Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.

  1. Perubahan yang fungsional.

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.

  1. Perubahan yang bersifat positif.

Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.

  1. Perubahan yang bersifat aktif.

Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.

  1. Perubahan yang bersifat pemanen.

Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.

  1. Perubahan yang bertujuan dan terarah.

Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

  1. Perubahan perilaku secara keseluruhan.

Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.

Berdasarkan definisi di atas, maka yang dimaksud belajar adalah suatu proses usaha aktif yang dilakukan oleh individu secara sengaja, berlangsung secara berkesinambungan,bertujuan untuk memperoleh perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang positif dan relative menetap sebagai pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan dimana individu itu berada. Jika di dalam proses belajar tidak mendapatkan peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, dapat dikatakan bahwa orang tersebut mengalami kegagalan di dalam proses belajar.

B. Makna Keterampilan Belajar

Keterampilan belajar merupakan salah satu potensi dan tugas asasi manusia yang kuantitas dan kualitasnya dipengaruhi faktor eksternal.  Pendidikan adalah faktor eksternal dalam bentuk rekayasa sistematis untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas keterampilan belajar. 

Seorang yang terampil belajar ia akan menjadi pembelajar bagi dirinya yang berbasis pada kesadaran bahwa we created by the Creator to be creature with creativity (Harefa, 2000: 119).  Bahwa kita adalah ciptaan yang dicipta oleh Sang Pencipta dan dianugerahi daya cipta untuk mencipta.  Bila seseorang telah menjadi manusia pembelajar, ia akan dapat menciptakan organisasi pembelajar, yakni organisasi yang terus menerus memperluas kapasitas menciptakan masa depan.  Seorang pembelajar akan lebih memiliki tanggung jawab baik kepada Tuhan, kepada diri sendiri, dan kepada sesama manusia.  Seorang pembelajar akan memperoleh keterampilan belajar dan akhirnya akan lebih manusiawi, sebagaimana penegasan Senge (dalam Harefa, 2000: 139), bahwa dari belajar individu akan:

  1. Menciptakan kembali kepribadiannya

  2. melakukan sesuatu yang baru

  3. Merasakan hubungan yang lebih dalam dengan dunia

  4. Dapat memperluas kapasitas proses pembentukan kehidupan

Keterampilan belajar dapat disebut sebagai kecakapan melakukan aktivitas yang merupakan modalitas utama penunjang keberhasilan belajardengan mengarahkan prhatian tinggi dan latihan terus menerus. Modalitas utama yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah akal pikiran, pendengaran, penglihatan, pngkecapan, dan perabaan. Semua modalitas ini perlu dikembangkanagar fungsinya optimal. Dari jenis modalitas tersebut, yang harus tetap ada dalam proses pembelajaran adalah bagaimana mengembangkan keterampilan menyimak/mendengar, membaca, menulis dan mencatat, serta berbicara untuk menyampaikan gagasan kepada orang lain. Jenis keterampilan belajar ini merupakan dasar untuk mencapai keberhasilan belajar.

Keterampilan belajar menurut Devine (Burden & Byrd, 1999:306), adalah suatu kecakapan yang berhubungan dengan mencatat, mengorganisasi, menyintesis, mengingat, dan menggunakan informasiyang diperoleh. Keterampilan ini diperoleh melalaui:

  1. Mengumpulkan informasi dan gagasan daru melalui mendengar dan membaca

  2. Mencatat informasi yang diperoleh melalui membuat catatan, outline,dan kesimpulan

  3. Meningkatkan pemahaman melaluisintesis dan membuat hubungan dengan informasi sebelumnya yang telah diperoleh

  4. Mengorganisasi informasi yang diperoleh dngan membuet ouline, bagan, dan ikhtisar

  5. Mengingat melalui organisasi memori dan menyampaikan kembali

  6. Menggunakan infomasi dan ide-ide baru melalui laporan dan tes

Keterampilan belajar memiliki beberapa manfaat, diantaranya yaitu;

  1. Mengenali dan mengekspresikan potensi diri

  2. Berguna untuk diri sendiri dan orang lain

  3. Mengendalikan perubahan

  4. Memiliki pengetahuan

  5. Melihat masalah secara luas dan dapat mengambil keputusan

C. Upaya Meningkatkan Keterampilan Belajar Mahasiswa

Ada beberapa upaya untuk meningkatkan keterampilan belajar mahasiswa, yaitu:

  1. Meningkatkan Keterampilan Merencanakan Belajar

Membuat rencana belajar merupakan aspek penting yang menunjang keberhasilan belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya belajar harus dianalisis mulai dari bagaimana pembelajaran itu direncanakan. Beberapa jenis keterampilan yang penting dalam perencanaan belajar di perguruan tinggi antara lain:

  1. Pengambilan mata kuliah

Pengambilan mata kuliah di awal semester, terutama bagi mahasiswa baru, sering menimbulkan kesulitan, karena ketika di bangku sekolah mereka tidak memiliki pengalaman dalam pengambilan rencana belajar. Maka dari itu, mahasiswa perlu memperoleh bimbingan dari dosen. Mereka dibimbing untuk mengenal kemampuannya sendiri dan beban SKS yang sesuai dengan kemampuannya tersebut.

  1. Pengisian KRS

Untuk mengisi KRS, mahasiswa perlu dibimbinguntuk memantapkan dan dapat memastikan diri rencana studi yang akan diambil di semester tersebut

  1. Kesiapan menghadapi perkuliahan

Agar mahasiswa siap dalam menjalankan perkuliahan, perlu adanya motivasi untuk belajar. Motivasi belajar merupakan sesuatu yang fluktuatif, terkadang tinggi, rendah, bahkan hilang. Agar motivasi belajar mahasiswa tetapterpelihara, mereka perlu dibimbing agar dapat membangkitkan kembali motivasi dirinya untuk belajar.

  1. Meningkatkan Keterampilan Dalam Proses Belajar

Berikut ini diuraikan beberapa jenis keterampilan dasar yang penting dan langsung berkaitan dengan kegiatan proses belajar di perguruan tinggi, yaitu:

  1. Keterampilan Menyimak

Kegiatan menyimak bebeda dengan mendengar. Kegiatan menyimak membutuhkan perhatian dan konsentrasi penuh melalui cara:

  1. Mendengar aktif, yaitu mendengar yang merupaka fisiologis penerimaan rangsangan pendengaran.

  2. Memperhatikan, yakni memusatkan kesadaran secara sengaja pada rangsangan tertentudan mengabaikan rangsangan lain yang tidak berkaitan.

  3. Menangkap pesan, yaitu proses pemberian makna pada kata yang didengar sesuai dengan makna yang dimaksud oleh pemberi pesan.

  4. Membuat catatan untuk diingat dan dipelajari lebih lanjut.

Proses menyimak dengan melibatkan empat unsur tersebut perlu terus dilatih. Davine (Burden & Byrd,1987) menjelaskan beberapa kiat untuk menyimak perkuliahan, yakni:

  1. Merumuskan tujuan menyimak.

  2. Memberi perhatian pada apa yang ingin disimak.

  3. Mencatat informasi penting dan makna dari yang disimak, bukan redaksi utuh seperti photocopy, kecuali ungkapan yang sudah pasti.

  4. Memeriksa makna dari informasi yang disimak, didukung contoh.

  5. Mengikuti ururan ide yang disimak, kemudian dikembangkan.

  6. Menyimpulkan hasil akhir apa yang disimak.

  7. Memahami hubungan antara informasi dan pandangan pembicara.

  8. Mengevalasi hasil yang telah disimak.

  9. Menggunakan informasi yang telah disimak.

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan menyimak, yaitu sebagai berikut:

  1. Melatih presentasi bergiliran di depan kelas setelah menyimak perkuliahan dari dosen untuk mengetahui hasil simskan mereka.

  2. Member kesempatan kepada mahasiswa untuk mengulang pembicaraan saat terjadi sesuatu yang tidak terduga.

  3. Personalisasi pembicaraan.

  4. Mendorong mahasiswa merespons selama pembicaraan untuk mengetahui apakah mereka benar-benar menyimak.

  5. Melibatkan mahasiswa dalam pembicaraan.

  6. Membagi outline yang sudah ditentukan dalam perkuliahan.

  7. Melatih mendengar khusus setiap pembicaraan.

  8. Menggunakan alat bantu visual untuk meningkatkanperhatian dalam menyimak perkuliahan.

  9. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya.

  10. Meminta mahasiswa menuliskan, mencertakan, mendiskusikan, memecahkan masalah, mencari kasus sejenis, meresume materi.

  11. Memberi bimbingan untuk meningkatkan keterampilan menyimak.

  1. Keterampilan Membaca

Membaca merupakan modal dasar dalam belajar. Dengan membaca pembelajar memperoleh ilmu pengetahuan melebihi dari pengalamannya, seperti Hayakawa (Hernowo, 2001:22) mengatakan: “orang yang membaca kepustakaan yang baik, telah hidup lebih dari orang-orang yang tak mau dan tak mampu membaca. Adalah tidak benar kita hanya mempunyai satu kehidupan yang kita jalani. Jika kita dapat membaca, kita bisa menjalani berapapun banyak dan jenis kehidupan seperti yang diinginkan.”

Menurut Bowman (1991:265), ”membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan belajar sepanjang hayat (life-long learning)”. Apabila mahasiswa ingin maju dan berprestasi, mereka harus merubah persepsi dirinyadengan banyak membaca, seperti ungkapan Covey (Hernowo,2001:17): “Bila saya ingin mengubah sebuah keadaan, saya harus mengubah diri saya lebih dahulu. Untuk mengubah diri saya secara efektif, saya harus mengubah persepsi saya lebih dahulu dengan banyak membaca”.

Dengan membaca buku yang baik kita dapat:

  1. Memperoleh gagasan-gagasan besar dari ahli-ahli piker yang gemilang, ungkapan-ungkapan indah dari pengarang-pengarang besar,dan ilmu pengetahuan dari pakar-pakar.

  2. Tidak ragu-ragu untuk berkali-kali membaca.

  3. Tidak ragu-ragu membaca hanya sebagian jika hanya sebagian itu saja yang diperlukan.

  4. Mempunyai tujuan tertentu.

  5. Kritis dan terbuka.

  6. Mendiskusikan hasil bacaan.

Oleh karena itu, membaca merupakan kunci belajar paling berharga, karena:

  1. Membaca adalah sumber belajar paling lengkap.

  2. Membaca adalah sumber belajar yang mudah didapat.

  3. Membaca adalah sumber belajar yang paling murah.

  4. Membaca adalah sumber belajar paling cepat.

  5. Membaca adalah aktivitas yang dapat mengikuti zaman.

Membaca adalah suatu kombinasi dari pengenalan huruf, intellect, emosi yang dihubungkan dengan pengetahuansi pembaca untuk memahami suatu pesan yang tertulis (Kustaryo,1988:2).

Menurut Nurhadi (2004), keterampilan membaca pemahaman ada tiga tingkatan, yaitu:

  1. Membaca literal, adalah kecakapan mengenal dan menangkap bahan bacaan yng tertera secara tersurat(eksplisit). Artinya, pembaca hanya menangkap informasi yang tercetak secara literal (tampak jelas) dalam baris-baris bacaan.

  2. Membaca kritis, adalah kemampuan pembaca mengolah bahan bacaansecara kitis untuk menemukan keseluruhan makna bacaan, baik makna tersurat maupun tersirat, melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis, menyintensis, dan menilai.

  3. Membaca kreatif, adalah kemampuan yang tidak sekedar membaca makna yang tersurat dan tersirat,tetapi mamp menerapkan hasil membacanya dalam kehidupan sehari-hari secar kreatif.

Menurut penelitian Baker, hampir 85% belajar di perguruan tinggi harus dilakukan dengan membaca. Menurut Roosevelt, sekurang-kurangnya harus membaca 20 buku setiap tahun untuk mencapai sukses tinggi.

Untuk meningkatkan keterampilan membaca ada beberapa strategi, yaitu:

  1. Melihat secara global teks sebelum membaca melalui daftar isi.

  2. Menentukan gagasan penting yang ingin diketahui dari bacaan.

  3. Memberi perhatian lebih pada informasi dari pada lainnya.

  4. Menghubungkan ide-ide penting dengan sesuatu yang telah diketahui.

  5. Berusaha menentukan makna kata asing.

  6. Memonitor pemahaman atas teks.

  7. Memahami hubungan antar bagian teks.

  8. Mengetahui kapan harus mundurdanmembac ulang suat bagian.

  9. Menyesuaikan kecepatan membaca dengan tingkat kesulitan materi.

  1. Keterampilan Menulis

Menurut larwnce (1972), “Menulis hakikatnya memungkinkan apa dan bagaimana pikiran penulis. Dengan menulis memungkinkan penulis mengkomunikasikan isi jiwa, penghayatan, dan pengalamannya kepada berbagai pihak, terlepas dari ikatan kesamaan waktu dan tempat dengan pihak-pihak itu.

Menulis merupakan upaya agar tidak dilupakan orang tentang ilmu yang ditulisnya, sekaligus penulisnya, sebagaimana sabda Nabi SAW: ”Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya” (HR.Ali bin Abi Tholib).

Keterampilan menulis khususnya menulis ilmiah, merupakan suatu keterampilanyang harus dimiliki oleh mereka yang berkecimpung di dunia akademis, seperti: dosen, peneliti, dan mahasiswa.

Keterampilan menulis bagi mahasiswa bukanlah urusan sederhana menuliskan bahasa ke dalam lambing tulisan seperti anak-anakpada awal belajar menulis, tetapi keterampilan menulis sebagai suatu proses berfikir dalam kebenaranyang dimilikinya (Brotowidjoyo,1988; Sugono,1991).

Agar mahasiswa menguasai keterampilan menulis, Raimes(1983) mrnguraikan sejumlah komponen yang harus dihadapi ketika menulis, yaitu:

  1. Tujuan menulis

  2. Isis yang hendak disempaikan

  3. Pemahaman terhadap calon pembaca

  4. Proses menulis

  5. Tata bahasa

  6. Sintaksis

  7. Pemilihan kata

  8. Tehnik penulisan

  9. Organisasi gagasan.

Disamping beberapa komponen tersebut yang harus diperhatikan penulis adalah pramenulis, pembuatan daftar tulisan, penyuntingan, dan publikasi.

  1. Keterampilan Presentasi

Istilah “presentasi” sekarang ini bukanlah sesuatu yang asing, hampir setiap hal yang ingi dikenalkan ke publik menggunakan presentasi.dalam presentasi seorang pembicara mamaparkan detail-detail dari materi yang disempaikan dan terjadi hubungan dua arah, pembicara dengan audiens.

  1. Meningkatkan Keterampilan Mengevaluasi Hasil Balajar

Keterampilan mengevaluasi hasil belajar merupakan aspek penting yang menunjang keberhasilan belajar. Hasil belajar yang diperoleh setiap mata kuliah penting dievaluasiuntuk menyikapi dan menindak lanjuti pembelajaran selanjutnya.

Menyikapi permasalahan yang muncul pasca hasil belajaryang diperoleh, maka mahasiswa perlu dibimbing agar terampil melakukan evaluasi diri terhadap hasil belajar yang diperolehnya. Jenis keterampilan ini mencakup:

  1. Cara penghitungan IP/IPK

  2. Menyikapi secara positif dengan cara menerima secara realistis hasil belajar yang diperoleh

  3. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri berkaitan dengan hasil yang diperoleh

  4. Dapat menindak lanjuti hasil belajar dengan mengembangkan kekuatan dan memperkecil kelemahan yang pernah dilakukan berdasarkan analisis untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Bardasarkan makalah ini penulis dapat memberi kesimpulan bahwa seorang mahasiswa sangatlah penting memiliki keterampilan belajar, agar mereka menjadi cakap dalam merencanakan belajar, cakap dalam mengikuti proses belajar, dan cakap mengevaluasi hasil belajar, sehingga mereka menjadi mahasiswa yang sukses dalam perkuliahanya, bisa menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari, dan bisa memanfaatkan pengetahuannya untuk mencapai kemajuan yang sebesar-besarnya.

B. Saran

Penulis menyarankan sebagai mahasiswa harus terus meningkatkan keterampilan belajarnya, mau berpikir kritis dan selalu berusaha untuk mejadi lebih baik. Sebab mahasiswa adalah generasi penerus bangsa Indonesia. Seperti apa bangsa ini besok, tergantung pada pemuda-pemuda sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Nurhayati, Eti.2011.Psikologi Pendidikan Inovatif.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Techonly13.2010.Education. (Online), (http://techonly13.wordpress.com/2010/06/11/pengertian-belajar, diakses tanggal 6 november 2011 jam 19.00)

Cafestudi061.2008.Pendidikan Trackback. (Online), (http://cafestudi061.wordpress.com/2008/09/11/pengertian-belajar-dan-perubahan-perilaku-dalam-belajar, diakses tnggal 6 november 2011 jam 19.00)

Meta Cyntia.2008. PBL Blok 2 Modul 1 Keterampilan Belajar dan Berpikir Kritis . (Online), (http://cyntia-meta.blogspot.com/2010/03/pbl-blok-2-modul-1-keterampilan-belajar.html, diakses tanggal 6 november 2011 jam 19.00)

Nugroho, Dwi.2008. Belajar Keterampilan Berbasis Keterampilan Belajar (Learning Skill Based Skill Learning). (Online), (http://ww.depdiknas.go.id/jurnal/37/belajar_keterampilan_berbasis_k.htm, diakses tnggal 6 november 2011 jam 19.00)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s